
GAMEONLINE. Sejak pertama kali hadir di tahun 2015, Dying Light sudah punya tempat spesial di hati para penggemar game survival-horror. Campuran antara parkour, pertarungan brutal, dan atmosfer dunia penuh zombie membuatnya berbeda dari game sejenis. Kini, Techland kembali membawa napas baru lewat seri terbarunya, Dying Light: The Beast.
Sekilas, game ini terlihat masih setia dengan formula klasiknya: dunia terbuka, parkour, crafting, dan pertarungan penuh darah. Namun, setelah menyelami lebih jauh, jelas terasa bahwa The Beast mencoba melangkah lebih jauh dari sekadar “sekuel aman”. Ada inovasi besar, terutama pada sisi karakter utama, latar cerita, hingga mekanik baru yang membuat pengalaman semakin mendalam.
Kyle Crane Dari Manusia Biasa Menjadi “Beast”
Penggemar lama tentu mengenal sosok Kyle Crane, tokoh utama dari seri pertama. Dalam The Beast, Crane kembali hadir, tetapi bukan lagi sebagai manusia biasa. Setelah bertahun-tahun dijadikan bahan eksperimen oleh seorang bernama Baron, Crane mengalami mutasi yang membuat tubuhnya separuh manusia, separuh volatile.
Perubahan ini memberi Crane kekuatan baru yang disebut Beast Mode. Dalam mode ini, ia bisa menghantam zombie maupun manusia dengan kekuatan luar biasa, bahkan menghancurkan lawan hanya dengan tangan kosong. Namun, mode ini tidak bisa digunakan seenaknya. Ada bar khusus yang menentukan durasi Beast Mode, sehingga pemain harus cermat memilih waktu yang tepat untuk mengaktifkannya.
Hal ini membuat Crane bukan sekadar “superhero instan”, melainkan karakter dengan sisi rapuh. Kekuatan besar itu justru menuntut strategi agar tidak terbuang percuma.
Dunia Baru Castor Woods yang Penuh Misteri
Techland memperkenalkan dunia baru bernama Castor Woods, sebuah wilayah bergaya Eropa yang kaya nuansa. Area ini terbagi ke beberapa zona: mulai dari kota tua dengan bangunan klasik, kawasan perkebunan yang luas, hingga pabrik tua yang suram.
Setiap lokasi terasa hidup, penuh detail, dan menyimpan rahasia. Pemain didorong untuk menjelajah, mencari jalan alternatif, hingga menemukan tempat persembunyian yang unik. Nuansa dunia ini berhasil menghadirkan atmosfer mencekam sekaligus indah, cocok untuk eksplorasi parkour yang menjadi ciri khas game ini.
Parkour Lebih Halus, Pertarungan Lebih Brutal
Salah satu daya tarik utama Dying Light sejak awal adalah kebebasan bergerak melalui parkour. Dalam The Beast, fitur ini disempurnakan. Gerakan terasa lebih responsif, variasi lintasan semakin banyak, dan lingkungan yang rapuh menambah tantangan tersendiri.
Sementara itu, sistem pertarungan tetap mempertahankan elemen lama: senjata bisa rusak, amunisi terbatas, dan musuh yang cerdas. Perbedaan paling menonjol tentu hadir lewat Beast Mode. Pemain kini punya opsi untuk bertarung dengan kekuatan super, tetapi tetap harus mengatur strategi. Ini menciptakan keseimbangan antara sensasi brutal dan kebutuhan untuk berpikir taktis.
Misi Utama dan Side Quest yang Memperkaya
Cerita utama membawa kita pada perjalanan Crane menghadapi Baron dan kebenaran di balik eksperimen yang dialaminya. Namun, pengalaman tidak berhenti di sana.
Techland menyelipkan berbagai misi sampingan yang menarik, seperti pencarian harta karun melalui peta misterius, penyelesaian puzzle kecil, hingga eksplorasi area tersembunyi. Side quest ini bukan sekadar tambahan, melainkan memberi konteks baru terhadap dunia Castor Woods. Dengan begitu, pemain tidak akan merasa bosan hanya mengikuti jalur utama.
Sistem Skill yang Lebih Sederhana tapi Efektif
Berbeda dengan seri sebelumnya, The Beast menghadirkan sistem skill yang lebih ringkas. Pemain tidak lagi dibuat bingung oleh banyak pilihan yang rumit. Kali ini, skill parkour dan pertarungan lebih terintegrasi, sementara Beast Point khusus digunakan untuk memperkuat kemampuan mutasi Crane.
Meski tampak sederhana, sistem ini tetap memberi kedalaman strategis. Pemain bisa menyesuaikan gaya bermain sesuai preferensi, baik fokus pada kelincahan parkour maupun kekuatan Beast.
Pengalaman Co-Op Masih Jadi Andalan
Seperti seri sebelumnya, The Beast tetap menghadirkan mode Co-Op yang memungkinkan pemain menjelajahi dunia bersama teman. Kamu bisa berburu item, menyelesaikan quest sampingan, atau sekadar berkelana menghadapi zombie bersama.
Namun, progres cerita utama tetap bergantung pada host. Artinya, meskipun pemain lain ikut membantu, alur cerita hanya tercatat di akun host. Bagi sebagian orang ini mungkin terasa membatasi, tapi keputusan ini menjaga narasi agar tidak berantakan.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan:
- Atmosfer Castor Woods yang detail dan imersif.
- Parkour lebih halus dengan tantangan baru.
- Mode Beast menghadirkan sensasi segar dan brutal.
- Side quest memberi alasan kuat untuk menjelajah.
- Co-Op tetap seru untuk dimainkan bersama teman.
Kekurangan:
- Beberapa bug masih muncul, terutama di area interaksi fisik.
- Progress cerita hanya fokus pada host di mode Co-Op.
- Durasi Beast Mode terbatas, meski hal ini juga bisa dianggap penyeimbang.
Kesimpulan
Dying Light The Beast berhasil membawa franchise ini ke arah yang lebih segar tanpa meninggalkan ciri khas yang membuatnya populer. Kembalinya Kyle Crane dengan kekuatan baru memberi dinamika berbeda, sementara Castor Woods menghadirkan dunia yang kaya dan penuh misteri.
Parkour yang lebih halus, pertarungan brutal, serta side quest yang bervariasi membuat pengalaman bermain semakin imersif. Meski ada beberapa kekurangan seperti bug dan keterbatasan Co-Op, hal tersebut tidak mengurangi daya tarik game ini secara keseluruhan.
Bagi penggemar lama maupun pendatang baru, Dying Light The Beast adalah judul yang layak dicoba. Game ini membuktikan bahwa Techland masih mampu menjaga relevansi franchise Dying Light sekaligus berani menawarkan sesuatu yang berbeda.
Skor: 8/10 – Brutal, Seru, dan Layak Masuk Koleksi Pecinta Survival Horror.