
GAMEONLINE. Di tengah lautan game free-to-play (F2P) yang ramai dan kadang membingungkan, sebuah judul baru dari Jepang mencoba melawan arus. Namanya Ananta, dan game ini bukan hanya menawarkan dunia open-world dengan pendekatan visual ala anime, tapi juga mengusung filosofi yang cukup berani, tidak akan ada sistem gacha karakter.
Dalam industri game modern terutama di Asia gacha telah menjadi model bisnis yang umum. Banyak judul besar seperti Genshin Impact, Honkai Star Rail, dan Blue Archive mengandalkan sistem “undi nasib” ini sebagai sumber pemasukan utama. Namun berbeda dengan tren tersebut, pengembang Ananta, yaitu Naked Rain, memilih pendekatan yang lebih ramah pemain.
Dalam wawancara khusus bersama media Jepang Denfaminicogamer, produser Ananta, Ashley Qi, memaparkan dengan jujur bagaimana sistem monetisasi game ini dirancang. Hasilnya adalah sesuatu yang segar, berani, dan yang paling penting menghormati pengalaman pemain.
Ananta, Game Free-to-Play yang Tidak Memaksa
Konsep utama dari Ananta adalah game free-to-play (F2P) yang terbuka untuk siapa saja. Pemain dapat mengunduh dan memainkan game ini tanpa mengeluarkan uang sepeser pun di awal. Tapi tentu saja, agar game bisa terus berkembang dan mendapatkan pemasukan untuk biaya operasional, perlu ada sistem monetisasi yang dijalankan.
Namun berbeda dengan banyak game F2P lainnya yang “mengunci” karakter atau fitur penting di balik sistem gacha, Ananta tidak akan melakukannya.
“Kami tidak akan memasukkan sistem gacha karakter dalam game ini,” ujar Ashley Qi.
Keputusan ini bukan tanpa pertimbangan. Qi menyadari bahwa banyak pemain saat ini sudah mulai lelah dengan model gacha yang dianggap lebih mengandalkan keberuntungan ketimbang strategi. Lebih jauh lagi, ia juga menyebut bahwa Naked Rain ingin menciptakan game yang bisa diakses dan dinikmati secara adil oleh semua pemain, tanpa memaksa mereka untuk menghabiskan uang demi karakter favorit.
Monetisasi Melalui Skin, Item Eksklusif, dan Kustomisasi
Lalu, dari mana pendapatan game ini akan datang?
Ashley Qi menjelaskan bahwa Ananta akan mengandalkan penjualan skin dan item kosmetik sebagai sumber pendapatan utama. Artinya, monetisasi difokuskan pada aspek visual dan gaya, bukan kekuatan karakter atau fitur gameplay penting.
Beberapa bentuk monetisasi yang disiapkan antara lain:
- Skin karakter: Kostum dan tampilan visual alternatif untuk karakter.
- Item-event eksklusif: Item terbatas yang hanya tersedia pada periode tertentu.
- Kustomisasi karakter: Pemain bisa membeli opsi tambahan untuk menyesuaikan penampilan tokoh mereka.
- Kendaraan dan rumah: Fitur properti dalam game yang bisa di-upgrade atau dikoleksi.
Yang menarik, tidak semua item akan memaksa pemain untuk membayar dengan uang asli. Beberapa fitur tetap dapat diakses dengan mata uang dalam game yang didapatkan melalui aktivitas bermain secara reguler. Ini berarti pemain yang aktif tetap bisa mendapatkan konten menarik tanpa harus mengeluarkan uang, sementara pemain yang ingin tampil beda secara instan tetap punya opsi membelinya.
Tanpa Gacha = Tanpa Pay-to-Win
Keputusan untuk menghindari gacha bukan hanya soal kenyamanan pemain, tapi juga bagian dari komitmen Naked Rain untuk menghindari sistem pay-to-win. Banyak game F2P menghadapi kritik karena memberi keunggulan besar pada pemain yang menghabiskan banyak uang. Dengan hanya menjual kosmetik, Ananta mencoba menghapus ketimpangan itu.
“Kami ingin semua orang merasa nyaman bermain, terlepas dari apakah mereka membayar atau tidak,” tambah Qi.
Pendekatan ini juga mengingatkan kita pada model bisnis beberapa game sukses seperti Warframe dan Fortnite, di mana elemen-elemen monetisasi sepenuhnya bersifat estetika.
Fokus pada Kenyamanan dan Pilihan Pemain
Yang membuat sistem ini terasa lebih manusiawi adalah kebebasan yang diberikan kepada pemain. Tidak ada paksaan, tidak ada jebakan psikologis seperti yang biasa dijumpai di sistem loot box atau gacha. Semuanya kembali kepada pilihan individu: ingin tampil beda? Silakan beli. Ingin bermain secara gratis sepenuhnya? Bisa juga.
Lebih jauh lagi, pendekatan ini sejalan dengan semangat komunitas yang saat ini mulai kritis terhadap eksploitasi dalam game. Pemain kini tidak hanya mencari game yang seru, tapi juga yang menghargai waktu dan usaha mereka.
Pilihan Berani yang Layak Diapresiasi
Di tengah hiruk-pikuk game F2P yang semakin mengaburkan batas antara hiburan dan eksploitasi, Ananta muncul sebagai angin segar. Dengan keputusan tegas untuk tidak memakai sistem gacha karakter dan memilih monetisasi berbasis estetika, Naked Rain menunjukkan bahwa mereka percaya pada pengalaman bermain yang adil dan menyenangkan.
Memang, tantangan besar masih menanti: mampukah model ini bertahan secara finansial di tengah dominasi gacha? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun satu hal yang pasti, Ananta telah memilih jalan berbeda dan itu, dalam dunia game modern, adalah sesuatu yang layak kita apresiasi.