
GAMEONLINE. Ada momen ketika sebuah nama tidak hanya mewakili seekor hewan, tetapi juga sebuah era. Nama itu adalah Gentildonna kuda betina Jepang yang mengubah cara dunia memandang pacuan kuda. Ketika kabar kepergiannya diumumkan pada 25 November 2025, rasa kehilangan yang muncul tidak hanya datang dari dunia balap, tetapi juga dari komunitas game dan anime, khususnya para pemain Uma Musume: Pretty Derby. Bagi banyak orang, Gentildonna bukan sekadar kuda pacu,ia adalah ikon, inspirasi, dan simbol keanggunan yang tidak mudah dilupakan.
Dari Padang Rumput Hokkaido Menuju Lintasan Dunia
Gentildonna lahir pada 20 Februari 2009 di Northern Farm, Hokkaido sebuah tempat terkenal yang telah melahirkan banyak kuda juara. Ia bukan kuda biasa; darah juara sudah mengalir sejak lahir. Ayahnya, Deep Impact, adalah salah satu kuda balap paling legendaris Jepang, sementara sang ibu, Donna Blini, membawa garis keturunan berprestasi dari Inggris.
Meski awal kariernya pada 2011 tampak seperti langkah kecil seorang pemula, para pengamat balap sejak awal sudah merasakan aura berbeda pada kuda muda ini. Cara ia melaju, kestabilan langkahnya, dan ketenangan yang dimilikinya membuat namanya cepat mencuri perhatian.
Dan benar saja tahun berikutnya ia mulai mengukir sejarah.
- 2012: Tahun Ketika Sang Ratu Dinobatkan
Tahun 2012 adalah titik balik yang menandai kehebatan Gentildonna. Pada usia tiga tahun, ia dengan mantap menorehkan prestasi yang membuat namanya dikenang hingga kini.
Berikut pencapaian luar biasa sang kuda betina:
- Menyapu bersih Japanese Fillies’ Triple Tiara
- Gelar prestisius ini terdiri dari:
- Oka Sho (1.600 m)
- Japanese Oaks (2.400 m)
- Shuka Sho (2.000 m)
Tidak banyak kuda yang mampu menaklukkan tiga balapan klasikal ini sekaligus, namun Gentildonna melakukannya dengan kepala tegak seakan menegaskan bahwa dirinya bukan kuda betina biasa.
Sejarah Baru di Japan Cup 2012
Puncaknya adalah saat ia turun di Japan Cup 2012, menghadapi kuda-kuda jantan terbaik Jepang dan luar negeri. Hari itu, Gentildonna mencetak sejarah sebagai kuda betina usia tiga tahun pertama yang memenangkan Japan Cup.
Kemenangan tersebut bukan hanya penting untuk statistic melainkan sebuah pernyataan bahwa kekuatan tidak harus datang dari ukuran tubuh, melainkan dari keteguhan hati.
Tidak heran, pada akhir tahun 2012, ia dianugerahi gelar Japan Horse of the Year.
Dominasi Berlanjut Dua Gelar Japan Cup dan Penutup Karier yang Manis
Prestasi Gentildonna tidak berhenti pada satu musim. Tahun-tahun berikutnya menjadi panggung bagi pengukuhan statusnya sebagai salah satu kuda balap terhebat Jepang.
- 2013: Japan Cup Kedua
Hanya sedikit kuda dalam sejarah yang berhasil memenangkan Japan Cup secara beruntun. Gentildonna melakukannya dengan gaya, ketenangan, dan keanggunan yang menjadi ciri khasnya. - 2014: Menaklukkan Dubai dan Arima Kinen
Perjalanan internasionalnya semakin memperkaya catatan emas kariernya. Di Dubai Sheema Classic 2014, Gentildonna mengalahkan pesaing dari berbagai negara, menegaskan bahwa kualitas kuda Jepang mampu bersaing di panggung dunia.
Tak berhenti di sana, ia menutup kariernya dengan kemenangan mengesankan di Arima Kinen 2014, salah satu balapan paling emosional dan prestisius di Jepang. Banyak yang menganggap kemenangan itu sebagai “salam perpisahan” yang sangat layak bagi seekor legenda.
Selama kariernya, Gentildonna mencatat:
- 19 kali balapan
- 10 kemenangan
- 4 kali runner-up
- 1 kali posisi ketiga
Angka itu mungkin hanya statistik bagi sebagian orang, tetapi bagi dunia pacuan kuda, itu adalah bukti dari konsistensi dan kehebatan yang sulit disaingi.
Masa Pensiun Dari Lintasan ke Peran sebagai Ibu
Setelah berhenti dari dunia balap, Gentildonna kembali ke Northern Farm untuk menjalani peran baru sebagai broodmare. Kehidupan yang lebih tenang itu diisi dengan kelahiran beberapa anak, salah satunya Geraldina, yang kemudian menjadi kuda juara meneruskan semangat dan darah keemasan ibunya.
Pada Juli 2025, Gentildonna resmi pensiun dari tugas sebagai indukan. Usianya yang memasuki masa senja menjadi waktu bagi sang legenda untuk menikmati hidup tanpa sorotan kamera dan kerumunan penonton.
25 November 2025 Kepergian yang Menggetarkan Hati
Kabar wafatnya Gentildonna di usia 16 tahun membuat banyak pihak terhenyak. Lebih emosional lagi, tanggal perpisahannya bertepatan dengan hari kemenangan Japan Cup pertamanya seolah takdir ingin memberi garis penutup yang puitis.
Peternakan membuka area penghormatan, para penggemar mengirim pesan duka, dan komunitas pacuan hingga penggemar Uma Musume memberikan ucapan terima kasih atas warisan yang ia tinggalkan. Di dunia virtual, karakter Gentildonna mendapatkan tribut dari para pemain; sementara di dunia nyata, nama besarnya terus disebut dalam berbagai media dan forum pacuan.
Warisan Abadi Sang Ratu
Gentildonna adalah bukti bahwa:
- Kekuatan tidak mengenal jenis kelamin.
- Konsistensi adalah tanda kebesaran.
- Keanggunan dan keteguhan bisa berjalan bersama.
- Legenda tidak mati ia hidup dalam cerita, keturunan, dan hati penggemarnya.
Ia mungkin tidak lagi berlari di atas lintasan, tetapi jejak langkahnya masih terdengar dalam setiap kisah tentang dunia pacuan Jepang.